Manusia
memiliki banyak sekali keunggulan dibandingkan makhluk lain. Perbedaan mendasar
bila dibandingkan dengan binatang adalah pada sisi pengetahuannya. Bahkan jika dibandingkan
dengan malaikat pun masih lebih unggul manusia. Pengetahuan manusia lebih luas
daripada pengetahuan malaikat. Mari kita buka kembali informasi dari Allah di
dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 33,
Allah
berfirman, "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini!" Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama
benda itu, Allah berfirman, "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu,
bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa
yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
Pada fase-fase
perkembangan ke depan, pengetahuan manusia terus bertambah semakin luas dan
semakin detail. Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya melalui bahasa dan
nalar yang dimilikinya. Sedangkan binatang tidak memiliki keduanya. Binatang memang
memiliki bahasa, tetapi tidak berkembang (stagnan). Bahasa binatang
hanya pada kisaran untuk mempertahankan hidup, perkembangbiakan dan keamanan. Binatang
tidak memiliki nalar. Mereka tidak pernah bisa menyelesaikan masalah yang
mereka hadapi dengan cara kreatif. Nalar mampu menyelesaikan masalah secara
kreatif.
Bahasa manusia
terus berkembang sejalan dengan perkembangan rasa ingin tahunya. Untuk menyampaikan
ide, gagasan, pemikiran, atau sesuatu yang ingin diungkapkan kepada pihak lain,
diperlukan bahasa yang baik dan lengkap. Dengan banyak ditemukan fakta baru
menuntut penambahan kosa-kata baru. Penyerapan istilah-istilah dari bahasa
asing menjadi hal yang lumrah karena pada bahasa aslinya tidak ada atau tidak
dimiliki. Begitulah cara suatu bahasa dikembangkan.
Penalaran
adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu atau kegiatan
berpikir yang memunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran. Penalaran
memiliki ciri-ciri adanya suatu pola berpikir yang dapat disebut logika dan
sifat analitik dari proses berpikirnya. Maka, penalaran merupakan suatu kegiatan
berpikir yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir
yang dipergunakan untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang
bersangkutan.
Kedua hal
inilah yang menjadi keunggulan manusia. Namun, apakah dengan dua sarana ini
manusia menjadi tahu segalanya? Tentu tidak! Masih terlalu banyak yang tidak
diketahui oleh manusia. Hal-hal yang akan terjadi ke depan, walaupun cuma lima
menit ke depan, manusia tidak mengetahuinya. Bahkan sejarah masa lalu pun
manusia tidak mengetahui secara detail. Manusia mampu mengetahui hal-hal yang
bersifat materi lebih baik, tetapi tidak semuanya bisa diungkap secara mendetail.
Apalagi hal-hal yang bersifat non-materi, manusia tidak mampu mengungkap sebaik
yang bersifat materi.
Ke depan,
seiring dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat dan
bersifat eksponensial, menimbulkan pertanyaan. “Mampukah manusia mengetahui
secara sempurna rahasia-rahasia alam semesta baik materi maupun non-materi?”
Perlu kita
renungkan firman Allah Swt dalam Al Qur’an,
“Katakanlah:
Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh
habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun
Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Q.S. Al Kahfi ayat 109)
Dan
seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya,
niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S.
Luqman ayat 27)
Renungkan
pula ungkapan syair berikut!
“Tak
ada seorang pun yang dapat menguasai semua ilmu yang ada. Tak akan bisa,
meskipun ia mempelajarinya selama seribu tahun lamanya.” (Miftahus Sa’adah,
Ahmad bin Musthafa: 1/6).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar