Selasa, 08 Oktober 2019

Apa Saja yang Kita Ketahui?

Manusia memiliki banyak sekali keunggulan dibandingkan makhluk lain. Perbedaan mendasar bila dibandingkan dengan binatang adalah pada sisi pengetahuannya. Bahkan jika dibandingkan dengan malaikat pun masih lebih unggul manusia. Pengetahuan manusia lebih luas daripada pengetahuan malaikat. Mari kita buka kembali informasi dari Allah di dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 33,

Allah berfirman, "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini!" Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman, "Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"
 
Pada fase-fase perkembangan ke depan, pengetahuan manusia terus bertambah semakin luas dan semakin detail. Manusia mampu mengembangkan pengetahuannya melalui bahasa dan nalar yang dimilikinya. Sedangkan binatang tidak memiliki keduanya. Binatang memang memiliki bahasa, tetapi tidak berkembang (stagnan). Bahasa binatang hanya pada kisaran untuk mempertahankan hidup, perkembangbiakan dan keamanan. Binatang tidak memiliki nalar. Mereka tidak pernah bisa menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dengan cara kreatif. Nalar mampu menyelesaikan masalah secara kreatif.

Bahasa manusia terus berkembang sejalan dengan perkembangan rasa ingin tahunya. Untuk menyampaikan ide, gagasan, pemikiran, atau sesuatu yang ingin diungkapkan kepada pihak lain, diperlukan bahasa yang baik dan lengkap. Dengan banyak ditemukan fakta baru menuntut penambahan kosa-kata baru. Penyerapan istilah-istilah dari bahasa asing menjadi hal yang lumrah karena pada bahasa aslinya tidak ada atau tidak dimiliki. Begitulah cara suatu bahasa dikembangkan.

Penalaran adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu atau kegiatan berpikir yang memunyai karakteristik tertentu dalam menemukan kebenaran. Penalaran memiliki ciri-ciri adanya suatu pola berpikir yang dapat disebut logika dan sifat analitik dari proses berpikirnya. Maka, penalaran merupakan suatu kegiatan berpikir yang menyandarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berpikir yang dipergunakan untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan.

Kedua hal inilah yang menjadi keunggulan manusia. Namun, apakah dengan dua sarana ini manusia menjadi tahu segalanya? Tentu tidak! Masih terlalu banyak yang tidak diketahui oleh manusia. Hal-hal yang akan terjadi ke depan, walaupun cuma lima menit ke depan, manusia tidak mengetahuinya. Bahkan sejarah masa lalu pun manusia tidak mengetahui secara detail. Manusia mampu mengetahui hal-hal yang bersifat materi lebih baik, tetapi tidak semuanya bisa diungkap secara mendetail. Apalagi hal-hal yang bersifat non-materi, manusia tidak mampu mengungkap sebaik yang bersifat materi.

Ke depan, seiring dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat dan bersifat eksponensial, menimbulkan pertanyaan. “Mampukah manusia mengetahui secara sempurna rahasia-rahasia alam semesta baik materi maupun non-materi?”

Perlu kita renungkan firman Allah Swt dalam Al Qur’an,

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Q.S. Al Kahfi ayat 109)

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Luqman ayat 27)

Renungkan pula ungkapan syair berikut!

“Tak ada seorang pun yang dapat menguasai semua ilmu yang ada. Tak akan bisa, meskipun ia mempelajarinya selama seribu tahun lamanya.” (Miftahus Sa’adah, Ahmad bin Musthafa: 1/6).

Wallahu a’lam bish shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar