Rabu, 17 Januari 2018

Bagaimana Menyikapi Berita Buruk?

Saat mendengar berita tentang perilaku naif (buruk) seorang teman atau tetangga, rasanya kok mudah melekat di ingatan. Dengan bahan berita ini orang memanfaatkannya untuk beragam tujuan. Ada yang memanfaatkan untuk memuaskan nafsu ghibah-nya, atau menggunjingnya. Ada yang beristighfar, tak ingin mendengar berita seperti ini dan berusaha memendamnya dalam-dalam jangan sampai diketahui oleh orang lain. Ada pula yang menindaklanjuti dengan cara membantu memecahkan masalahnya. Jika tidak bisa membantu, mereka mendo’akan agar Allah segera menutupi aibnya. Tentu kita bisa menilai sikap mana yang terbaik.

Selasa, 16 Januari 2018

Keterbukaan Komunikasi dalam Keluarga

Ada dialog menarik antara seorang ayah dan puterinya yang baru memasuki jenjang SMA. Cuplikan dialog cerdas itu penting untuk kita simak.

Ketika si ayah becerita tentang seorang temannya yang bisa mengobati segala macam penyakit dengan cara non medis, beliau menampakkan rasa kekagumannya. Hal ini memancing isterinya untuk berkomentar, "Itu namanya kerjasama dengan jin Yah! Kita dilarang minta tolong kepada jin." Si ayah tidak mau kalah, "Yang penting dia tetap muslim, kan?" Puterinya pun ikut nimbrung dalam dialog itu, "Ayah, manusia dan jin itu kewajibannya hanya beribadah (mengabdi) kepada Allah."

Minggu, 07 Januari 2018

Apakah Kita Tidak Merasa Tersesat?

Aktivitas manusia pada umumnya dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Walaupun ada juga orang yang dianggap tidak memiliki tujuan dalam hidupnya, tetapi pada dasarnya mereka tetap menuju suatu tujuan tertentu. Mungkin tujuannya samar atau tidak disadarinya. Setidaknya boleh disebut, bahwa tujuannya adalah ketidakjelasan itu sendiri atau mengalir bagaikan air.

Secara kesadaran, tujuan yang hendak dicapai oleh manusia ada yang terukur dan ada yang tidak terukur. Tujuan yang terukur adalah tujuan yang jelas sasaran, target, waktu, prosedur dan sumberdaya yang diperlukan. Sedangkan tujuan yang tidak terukur adalah tujuan yang tidak jelas salah satu atau seluruhnya dari sasaran, target, prosedur dan sumberdaya yang diperlukan, dan waktunya.

Logika Atheisme

Orang-orang atheis mengaku tidak memercayai adanya Tuhan. Bagi mereka Tuhan itu tidak ada. Bagaimana jika mereka bertemu Anda dan menanyakan hal yang sama kepada Anda? Bisakah Anda menjawabnya?

Ketika seseorang membuat pernyataan, pastilah ia menggunakan terminologi-terminologi dalam bahasa yang digunakannya. Sebuah kalimat tersusun atas beberapa kata sehingga memiliki arti tertentu. Saat memilih kata-kata yang digunakan untuk membuat sebuah kalimat, maka pastilah ia mengerti arti dari masing-masing kata itu. Setiap kata memiliki definisi sehingga kita mengerti apa maknanya.

Hakikat Cinta

Allah, Sang Pencipta, adalah Maha Pecinta dan sumber cinta. Dia menciptakan makhluk, memeliharanya dan memenuhi semua kebutuhannya dengan amat cermat. Dia tidak meminta balasan atas semua yang diberikannya. Itulah wujud cinta yang hakiki, cinta yang tak berbatas.

Semua makhluk pun diberinya rasa cinta, baik yang terbaca maupun tak terbaca, ternyatakan maupun tersembunyi. Tentu cinta makhluk itu terbatas, sebab mereka adalah makhluk yang serba terbatas. Kendati demikian, mereka berusaha mencari hakikat cinta sebenarnya. Karena itulah lahir beribu definisi cinta.

Apa Sebutan untuk Kita?

"Sebutan" adalah merupakan istilah lain dari “panggilan”,”nama”, “penanda” atau "identifier" yang unik bagi sesuatu. Dengan adanya sebutan ini maka kita mudah mengenali sesuatu itu. Jika tidak ada sebutan, maka kita akan kesulitan dalam mengenali apapun yang ada, baik yang nyata maupun yang ghaib (abstrak). Jadi, mau tidak mau kita memerlukan “sebutan” itu.

Sebutan bisa dibuat sendiri oleh yang bersangkutan atau dibuat oleh pihak lain di luar dirinya. Kebanyakan yang membuat sebutan sesuatu adalah pihak lain. Nama kita dibuat oleh orang tua kita. Nama benda-benda yang ada di alam, termasuk benda-benda langit, dibuat oleh manusia. Tuhan pun juga membuat nama-nama ciptaan-Nya sesuai bahasa yang digunakan di dalam kitab suci yang asli.

Analogi dari Takdir

Analogi adalah penjelasan atau penggambaran suatu hal dengan cara memberikan contoh kasus yang mirip dengan hal yang dibicarakan agar orang lebih mudah memahaminya. Hal ini biasanya dilakukan karena tidak mudahnya menjelaskan secara langsung dengan kata-kata.

Misalnya, ketika menjelaskan tentang takdir. Masalah ini adalah masalah yang sangat sulit dipahami. Dalam kasus ini biasanya digunakan analogi sederhana dengan mengambil contoh suatu fakta yang ada di sekitar kita.

Senin, 01 Januari 2018

Apa Hubungan Air dan Rasa Malu?


Apakah kita terkejut tatkala dihadapkan pada permintaan Allah Subhanahu wa ta'ala, "Terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum!"? Permintaan tersebut termaktub dalam Al Qur'an surat Al Waaqi'ah [56] ayat 68. Maka timbul pertanyaan dalam hati, mengapa Allah meminta penjelasan perihal ini? Apa yang diinginkan Allah dari jawaban kita? Bukan berarti Allah tidak mengetahui perihal air, karena Dia yang menciptakannya, pastilah Dia mengetahui sangat detil tentang barang buatan-Nya itu.

Siapakah Diri Anda?


Ketika kita ditanya, "Siapakah diri Anda?", tentu kita tidak akan mampu menjawabnya. Boleh jadi kita akan menjawabnya sesuai terminologi kedokteran dan psikologi yang kita pahami. Sedangkan aspek ruh, jiwa, hati dan perasaan tidak mampu kita menjangkaunya.

Apakah karena kita tidak mengenali diri sendiri sehingga kita tidak memperlakukan diri kita dengan semestinya? Apakah karena itu kita tidak mengetahui kelebihan dan kelemahan diri? Atau, apakah karena itu kita rela menempatkan diri lebih rendah dari sesama makhluk?