Saat mendengar berita tentang perilaku naif (buruk) seorang teman
atau tetangga, rasanya kok mudah melekat di ingatan. Dengan bahan berita ini
orang memanfaatkannya untuk beragam tujuan. Ada yang memanfaatkan untuk
memuaskan nafsu ghibah-nya, atau menggunjingnya. Ada yang beristighfar,
tak ingin mendengar berita seperti ini dan berusaha memendamnya dalam-dalam
jangan sampai diketahui oleh orang lain. Ada pula yang menindaklanjuti dengan
cara membantu memecahkan masalahnya. Jika tidak bisa membantu, mereka mendo’akan
agar Allah segera menutupi aibnya. Tentu kita bisa menilai sikap mana yang
terbaik.
Kita pun tahu bahwa ghibah adalah perbuatan yang sangat
dilarang. Namun, ternyata berita semacam itu tidak mudah hilang dari ingatan. Terkadang
tidak sengaja meluncur dari lisan kita untuk menceritakan ke orang lain. Lalu,
bagaimana mengatasi agar terkendali, tidak sampai diceritakan ke orang lain?
Otak kita seperti database yang bisa menyimpan data atau
berita apapun dengan kapasitas sangat besar. Data yang demikian banyak itu bisa
dipilih dan diambil kembali (recalled) untuk dimanfaatkan sesuai tujuan
tertentu. Demikian juga berita aib seperti ini pun juga berlaku sama. Seharusnya
janganlah berita itu digunakan untuk hal yang buruk, tetapi gunakanlah untuk
hal yang baik.
Hal yang baik seperti apa? Hal yang baik, misalnya, sebagai bahan pelajaran
bagi diri kita sendiri atau keluarga agar tidak meniru perilaku buruk tersebut.
Ketika kita menyampaikan kepada anggota keluarga dengan menggunakan contoh
kasus tersebut sebagai pelajaran, usahakan kita tidak menyebut nama orangnya. Sebaiknya
kita hanya menyampaikan bahwa kasus seperti itu tidak baik untuk ditiru.
Sedangkan berita-berita buruk yang memang diceritakan oleh Allah Subhanahu
wata’ala di dalam al Qur’an, kita boleh menyebutkan nama pelakunya karena
Allah telah menyebutnya. Berita-berita buruk itu disampaikan oleh Allah agar
digunakan sebagai pelajaran, jangan sampai kita melakukan hal yang sama. Dengan
demikian, bencana peradaban manusia tidak terjadi lagi.
Ingatlah kasus Fir’aun dan Nabi Musa, Namrudz dan Nabi Ibrahim,
ummat Nabi Nuh, ummat Nabi Luth, Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya, Nabi Yunus
dan kaumnya, Nabi Isa dan bani Israil, dan sebagagainya. Demikian juga sejarah
Nabi Muhammad saw. dengan kaum kafir Quraisy, serta kisah perjuangan para
sahabat Nabi Muhammad saw. Karakteristik pesan sejarah yang terkandung di
dalamnya sarat dengan pelajaran tentang kebenaran yang harus ditegakkan melawan
kebatilan.
Karena sejarah selalu berulang, maka kita harus senantiasa waspada
dengan cara mempelajarinya. Kita bisa mengenali hal-hal penting darinya, yaitu
mengetahui mana yang batil dan harus dijauhi serta sekaligus memahami bagaimana
cara mengatasinya. Peristiwa ini mungkin akan sering berulang terjadi dalam
skala kecil di sekitar kita hingga skala besar yang menimpa ummat manusia. Maka,
kita dan keluarga harus senantiasa berusaha belajar dari setiap peristiwa yang
terjadi, bukan untuk menggunjingnya (ghibah), melainkan untuk mencegah jangan
sampai terulang pada keluarga kita dan masyarakat.
Wallahu a’lam bishshawab.
Ngudi Tjahjono (Malang, 17 Januari 2018)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar