Rabu, 17 Januari 2018

Bagaimana Menyikapi Berita Buruk?

Saat mendengar berita tentang perilaku naif (buruk) seorang teman atau tetangga, rasanya kok mudah melekat di ingatan. Dengan bahan berita ini orang memanfaatkannya untuk beragam tujuan. Ada yang memanfaatkan untuk memuaskan nafsu ghibah-nya, atau menggunjingnya. Ada yang beristighfar, tak ingin mendengar berita seperti ini dan berusaha memendamnya dalam-dalam jangan sampai diketahui oleh orang lain. Ada pula yang menindaklanjuti dengan cara membantu memecahkan masalahnya. Jika tidak bisa membantu, mereka mendo’akan agar Allah segera menutupi aibnya. Tentu kita bisa menilai sikap mana yang terbaik.

Kita pun tahu bahwa ghibah adalah perbuatan yang sangat dilarang. Namun, ternyata berita semacam itu tidak mudah hilang dari ingatan. Terkadang tidak sengaja meluncur dari lisan kita untuk menceritakan ke orang lain. Lalu, bagaimana mengatasi agar terkendali, tidak sampai diceritakan ke orang lain?

Otak kita seperti database yang bisa menyimpan data atau berita apapun dengan kapasitas sangat besar. Data yang demikian banyak itu bisa dipilih dan diambil kembali (recalled) untuk dimanfaatkan sesuai tujuan tertentu. Demikian juga berita aib seperti ini pun juga berlaku sama. Seharusnya janganlah berita itu digunakan untuk hal yang buruk, tetapi gunakanlah untuk hal yang baik.

Hal yang baik seperti apa? Hal yang baik, misalnya, sebagai bahan pelajaran bagi diri kita sendiri atau keluarga agar tidak meniru perilaku buruk tersebut. Ketika kita menyampaikan kepada anggota keluarga dengan menggunakan contoh kasus tersebut sebagai pelajaran, usahakan kita tidak menyebut nama orangnya. Sebaiknya kita hanya menyampaikan bahwa kasus seperti itu tidak baik untuk ditiru.

Sedangkan berita-berita buruk yang memang diceritakan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam al Qur’an, kita boleh menyebutkan nama pelakunya karena Allah telah menyebutnya. Berita-berita buruk itu disampaikan oleh Allah agar digunakan sebagai pelajaran, jangan sampai kita melakukan hal yang sama. Dengan demikian, bencana peradaban manusia tidak terjadi lagi.

Ingatlah kasus Fir’aun dan Nabi Musa, Namrudz dan Nabi Ibrahim, ummat Nabi Nuh, ummat Nabi Luth, Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya, Nabi Yunus dan kaumnya, Nabi Isa dan bani Israil, dan sebagagainya. Demikian juga sejarah Nabi Muhammad saw. dengan kaum kafir Quraisy, serta kisah perjuangan para sahabat Nabi Muhammad saw. Karakteristik pesan sejarah yang terkandung di dalamnya sarat dengan pelajaran tentang kebenaran yang harus ditegakkan melawan kebatilan.

Karena sejarah selalu berulang, maka kita harus senantiasa waspada dengan cara mempelajarinya. Kita bisa mengenali hal-hal penting darinya, yaitu mengetahui mana yang batil dan harus dijauhi serta sekaligus memahami bagaimana cara mengatasinya. Peristiwa ini mungkin akan sering berulang terjadi dalam skala kecil di sekitar kita hingga skala besar yang menimpa ummat manusia. Maka, kita dan keluarga harus senantiasa berusaha belajar dari setiap peristiwa yang terjadi, bukan untuk menggunjingnya (ghibah), melainkan untuk mencegah jangan sampai terulang pada keluarga kita dan masyarakat.

Wallahu a’lam bishshawab. 


Ngudi Tjahjono (Malang, 17 Januari 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar