Minggu, 07 Januari 2018

Analogi dari Takdir

Analogi adalah penjelasan atau penggambaran suatu hal dengan cara memberikan contoh kasus yang mirip dengan hal yang dibicarakan agar orang lebih mudah memahaminya. Hal ini biasanya dilakukan karena tidak mudahnya menjelaskan secara langsung dengan kata-kata.

Misalnya, ketika menjelaskan tentang takdir. Masalah ini adalah masalah yang sangat sulit dipahami. Dalam kasus ini biasanya digunakan analogi sederhana dengan mengambil contoh suatu fakta yang ada di sekitar kita.

Andaikan saja seseorang membuat sebuah boneka dari bahan tanah liat. Ia bebas membuat dan membentuknya seperti yang ia kehendaki. Rupanya seperti apa, tangan dan kakinya berapa, kepalanya besar atau kecil, hidungnya mancung atau pesek, perutnya gendut atau rata dan lain-lain, semuanya tergantung kepada orang yang membuatnya. Sedangkan boneka tersebut tidak memiliki kehendak apa lagi kewenangan sedikit pun untuk merencanakan dirinya dibuat seperti apa. Bahkan ketika boneka sudah jadi, ketika si pembuat membantingnya, merusaknya, atau memelihara dan merawatnya, adalah kewenangan si pembuat. Boneka itu tidak punya hak untuk protes.

Sejak mulai perencanaan, proses pembuatan, setelah jadi dan nasib boneka itu ke depannya adalah kewenangan pembuatnya. Apakah boneka itu punya hak untuk menilai pembuatnya itu adil, zhalim, baik, atau jahat dan menuntutnya? Tentu tidak, bukan?

Nah, inilah contoh analogi untuk menggambarkan qadla' (takdir yang ditentukan oleh Allah atas alam dan isinya secara keseluruhan). Sedangkan untuk menjelaskan iradah manusia untuk menjalani kehidupannya tentu bisa menggunakan analogi yang lainnya.

Apakah analogi seperti ini tepat seperti yang seharusnya? Tentu tidak tepat, karena manusia tidak akan pernah mampu memahami dengan tepat tentang sesuatu yang menjadi kewenangan Allah Subhanahu wa ta'ala. Wallahu a'lam bish shawab.


Ngudi Tjahjono (Malang, 7 Januari 2018)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar