Analogi adalah penjelasan atau penggambaran suatu hal dengan cara
memberikan contoh kasus yang mirip dengan hal yang dibicarakan agar orang lebih
mudah memahaminya. Hal ini biasanya dilakukan karena tidak mudahnya menjelaskan
secara langsung dengan kata-kata.
Misalnya, ketika menjelaskan tentang takdir. Masalah ini adalah
masalah yang sangat sulit dipahami. Dalam kasus ini biasanya digunakan analogi
sederhana dengan mengambil contoh suatu fakta yang ada di sekitar kita.
Andaikan saja seseorang membuat sebuah boneka dari bahan tanah
liat. Ia bebas membuat dan membentuknya seperti yang ia kehendaki. Rupanya
seperti apa, tangan dan kakinya berapa, kepalanya besar atau kecil, hidungnya
mancung atau pesek, perutnya gendut atau rata dan lain-lain, semuanya
tergantung kepada orang yang membuatnya. Sedangkan boneka tersebut tidak
memiliki kehendak apa lagi kewenangan sedikit pun untuk merencanakan dirinya dibuat
seperti apa. Bahkan ketika boneka sudah jadi, ketika si pembuat membantingnya,
merusaknya, atau memelihara dan merawatnya, adalah kewenangan si pembuat.
Boneka itu tidak punya hak untuk protes.
Sejak mulai perencanaan, proses pembuatan, setelah jadi dan nasib
boneka itu ke depannya adalah kewenangan pembuatnya. Apakah boneka itu punya
hak untuk menilai pembuatnya itu adil, zhalim, baik, atau jahat dan
menuntutnya? Tentu tidak, bukan?
Nah, inilah contoh analogi untuk menggambarkan qadla' (takdir yang
ditentukan oleh Allah atas alam dan isinya secara keseluruhan). Sedangkan untuk
menjelaskan iradah manusia untuk menjalani kehidupannya tentu bisa menggunakan
analogi yang lainnya.
Apakah analogi seperti ini tepat seperti yang seharusnya? Tentu
tidak tepat, karena manusia tidak akan pernah mampu memahami dengan tepat tentang
sesuatu yang menjadi kewenangan Allah Subhanahu wa ta'ala. Wallahu
a'lam bish shawab.
Ngudi Tjahjono (Malang, 7 Januari 2018)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar