Minggu, 07 Januari 2018

Hakikat Cinta

Allah, Sang Pencipta, adalah Maha Pecinta dan sumber cinta. Dia menciptakan makhluk, memeliharanya dan memenuhi semua kebutuhannya dengan amat cermat. Dia tidak meminta balasan atas semua yang diberikannya. Itulah wujud cinta yang hakiki, cinta yang tak berbatas.

Semua makhluk pun diberinya rasa cinta, baik yang terbaca maupun tak terbaca, ternyatakan maupun tersembunyi. Tentu cinta makhluk itu terbatas, sebab mereka adalah makhluk yang serba terbatas. Kendati demikian, mereka berusaha mencari hakikat cinta sebenarnya. Karena itulah lahir beribu definisi cinta.

Mereka memiliki nafsu, keinginan dan harapan. Semua itu menuntut untuk dipenuhi haknya. Maka timbullah salah sangka tentang cinta. Cinta dikiranya sebagai pemenuhan apa yang diinginkannya, sehingga sering menuntut pihak lain untuk memenuhinya.

Meskipun mereka sering menyatakan rasa cintanya dengan pengakuan ketulusan, tetapi faktanya bisa sebaliknya. Bukannya mencintai, melainkan minta dicintai. Mereka marah dan membenci orang yang diharapkan mencintainya hanya karena menunjukkan ketidakpeduliannya. Mereka bersedih karena orang yang diharapkannya tidak menjadi miliknya.

Ingat, sebenarnya kita tidak pernah memiliki. Sebab keberadaan semua benda yang berada di tangan kita, baik yang bernyawa atau tidak, sejatinya bukan dalam kekuasaan kita. Kita tidak pernah menciptakannya dan benar-benar menguasainya, bagaimana mungkin kita bisa menuntut pengakuan (mengklaim) bahwa itu adalah milik kita?

Kita sering menganggap keberadaan mereka di tangan kita karena upaya, kekuasaan dan harta kita. Sehingga kita berani menganggap mereka adalah milik kita. Jika mereka adalah milik kita, maka mereka harus mau mengikuti apa yang kita inginkan. Padahal tidaklah demikian. Mereka yang memiliki nyawa, pastilah memiliki kehendak dan harapan yang berada di luar jangkauan kendali kita. Maka, mereka memiliki hak untuk mengikuti atau tidak atas kehendak kita meski hanya di dalam hati. 

Nah, apakah layak kita mengakatan sebagai pemilik mereka? Tentu tidak, bukan? Bahkan terhadap benda tak bernyawa pun kita tidak berhak mengklaim sebagai pemiliknya.

Ketika kita berharap dengan sangat seseorang mau menjadi kekasih kita, sejatinya itu bukanlah rasa cinta, melainkan rasa suka. Rasa suka berhubungan dengan pemenuhan terhadap keinginan dan harapan. Sedangkan cinta adalah hasrat untuk memberi, memelihara, menjaga, dan melindungi. Jadi, arahnya kepada pihak yang dicintai, bukan kepada kita.

Allah Maha pecinta. Dia memberi dan memelihara makhluk-Nya tanpa mengharapkan balasan. Maka, hakikat cinta adalah melayani, bukan minta dilayani.

Wallahu a'lam bish shawab.


Ngudi Tjahjono (Turen-Malang, Jum'at 14 Oktober 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar