Allah, Sang Pencipta, adalah Maha Pecinta dan sumber cinta. Dia
menciptakan makhluk, memeliharanya dan memenuhi semua kebutuhannya dengan amat
cermat. Dia tidak meminta balasan atas semua yang diberikannya. Itulah wujud
cinta yang hakiki, cinta yang tak berbatas.
Semua makhluk pun diberinya rasa cinta, baik yang terbaca maupun
tak terbaca, ternyatakan maupun tersembunyi. Tentu cinta makhluk itu terbatas,
sebab mereka adalah makhluk yang serba terbatas. Kendati demikian,
mereka berusaha mencari hakikat cinta sebenarnya. Karena itulah lahir beribu
definisi cinta.
Mereka memiliki nafsu, keinginan dan harapan. Semua itu menuntut
untuk dipenuhi haknya. Maka timbullah salah sangka tentang cinta. Cinta dikiranya
sebagai pemenuhan apa yang diinginkannya, sehingga sering menuntut pihak lain
untuk memenuhinya.
Meskipun mereka sering menyatakan rasa cintanya dengan pengakuan
ketulusan, tetapi faktanya bisa sebaliknya. Bukannya mencintai, melainkan minta
dicintai. Mereka marah dan membenci orang yang diharapkan mencintainya hanya
karena menunjukkan ketidakpeduliannya. Mereka bersedih karena orang yang
diharapkannya tidak menjadi miliknya.
Ingat, sebenarnya kita tidak pernah memiliki. Sebab keberadaan
semua benda yang berada di tangan kita, baik yang bernyawa atau tidak,
sejatinya bukan dalam kekuasaan kita. Kita tidak pernah menciptakannya dan
benar-benar menguasainya, bagaimana mungkin kita bisa menuntut pengakuan
(mengklaim) bahwa itu adalah milik kita?
Kita sering menganggap keberadaan mereka di tangan kita karena
upaya, kekuasaan dan harta kita. Sehingga kita berani menganggap mereka adalah
milik kita. Jika mereka adalah milik kita, maka mereka harus mau mengikuti apa
yang kita inginkan. Padahal tidaklah demikian. Mereka yang memiliki nyawa,
pastilah memiliki kehendak dan harapan yang berada di luar jangkauan kendali
kita. Maka, mereka memiliki hak untuk mengikuti atau tidak atas kehendak kita
meski hanya di dalam hati.
Nah, apakah layak kita mengakatan sebagai pemilik mereka? Tentu
tidak, bukan? Bahkan terhadap benda tak bernyawa pun kita tidak berhak
mengklaim sebagai pemiliknya.
Ketika kita berharap dengan sangat seseorang mau menjadi kekasih
kita, sejatinya itu bukanlah rasa cinta, melainkan rasa suka. Rasa suka
berhubungan dengan pemenuhan terhadap keinginan dan harapan. Sedangkan cinta
adalah hasrat untuk memberi, memelihara, menjaga, dan melindungi. Jadi, arahnya
kepada pihak yang dicintai, bukan kepada kita.
Allah Maha pecinta. Dia memberi dan memelihara makhluk-Nya tanpa
mengharapkan balasan. Maka, hakikat cinta adalah melayani, bukan minta
dilayani.
Wallahu a'lam bish shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar