![]() |
| Berbahagia dengan bersyukur |
Benarkah tidak ada alasan untuk tidak bersyukur? Mungkin pertanyaan
ini menuntun kita untuk berpikir menelusuri waktu demi waktu dan langkah demi
langkah kehidupan yang sudah kita lalui, untuk mencari jawaban atas pertanyaan
itu. Di masyarakat banyak ditemui orang yang selalu mengeluh atas kehidupannya.
Dari keluhan itu nampak adanya penderitaan dalam hidupnya. Uniknya lagi, hal
itu terjadi bukan pada orang yang tergolong miskin saja, melainkan banyak juga
pada orang-orang kaya.
Banyak orang kaya yang hidupnya resah, depresi, bahkan tidak bisa menikmati kekayaannya. Tidak jarang di antara mereka yang berusaha lari dari kehidupannya dengan cara mengakrabi minuman keras, dugem, pergaulan bebas dan narkoba. Dikiranya di sana akan ditemui kebahagiaan, ternyata faktanya tidaklah demikian. Banyak juga yang menghabiskan usianya di penjara karena perilakunya yang buruk, bahkan banyak juga yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.
Di sisi lain, banyak sekali kita temui orang-orang yang tergolong
miskin nampak tenang hidupnya dan selalu berbahagia bersama keluarganya. Mereka
seringkali menebar senyum dan salam kepada tetangganya. Mereka mempunyai
semangat hidup yang tinggi dan selalu menasehati teman-temannya. Pendeknya,
nampak sekali pancaran kebahagiaan di wajah mereka. Mereka dekat sekali dengan
Tuhannya dan berusaha untuk selalu menjalani kehidupannya pada aturan-aturan
agamanya. Mereka berupaya untuk menyelaraskan hidupnya dengan kehendak
Tuhannya.
Kendati tekanan kehidupannya cukup berat, mereka tetap optimis
bahwa di hari esok akan menemukan kebahagiaan demi kebahagiaan. Mereka tidur
dengan nyenyak, tidak ada kekhawatiran akan apa yang terjadi di hari esok.
Tertawanya lepas dan ikhlas, seperti tertawanya anak-anak kecil yang
mendapatkan hadiah mainan yang diinginkannya. Rasa syukur terhadap nikmat yang
dirterimanya mengantarkannya kepada kekaguman kepada Tuhannya.
Sekarang kita persempit pada kasus sederhana namun sering terjadi.
Ada orang yang menyesal berkepanjangan, mengapa kulitnya berwarna hitam. Ada
orang yang merasa malu dengan hidungnya yang tidak tergolong mancung. Ada orang
yang menyesali tubuhnya yang tidak ideal, mungkin lebih pendek dari kebanyakan
teman-temannya. Ada orang yang bersedih karena alasan-alasan kecil lainnya,
seperti: tidak tampan atau cantik, tidak pandai, tidak dilahirkan di keluarga
yang kaya dan sebagainya. Bahkan ada pula yang menyesal mengapa dulu diberi
nama yang tidak trendy.
Alasan-alasan kecil ini tidak jarang mendominasi pikiran dan
perasaannya. Sehingga seolah tidak ada kelebihan atau kenikmatan yang
dimilikinya yang mampu menutupi kekurangan yang dirasakannya.
Kekurangan-kekurangan itu membuatnya minder, pasip, tak bersemangat dan anti
sosial. Karena itu mereka sering memrotes orang lain, orang tuanya, keadaan, dan
bahkan Tuhannya, yang dituduhnya sebagai penyebab dari kekurangannya.
Mengapa Orang Sering Mengeluh?
Keluhan adalah ungkapan kekecewaan -baik melalui lisan atau dalam
hati-, atas kekurangan dimiliki atau atas keadaan yang tidak sesuai dengan yang
diinginkan. Hal-hal kecil bisa menyebabkan terjadinya keluhan itu jika orang
berfokus kepadanya. Kendati mereka memiliki kelebihan dan nikmat yang amat
banyak, semua itu tidak terlihat manakala mereka berfokus pada kekurangannya.
Sebenarnya sikap seperti ini akan merugikan dirinya. Semakin tidak
terima, protes atau marah, maka akan semakin membuatnya menderita. Perasaan
menderita ini pasti berpengaruh buruk terhadap tubuhnya. Pertumbuhan sel-sel
kulitnya tidak sehat sehingga nampak lusuh, berkerut, tidak segar, dan redup
tak bercahaya. Organ-organ vital tubuhnya seperti jantung dan paru-parunya
menjadi sakit. Pikirannya menjadi tidak cemerlang. Emosinya meletup-letup tak
terkendali. Energi terkuras untuk meratapi keadaan.
Kita mengetahui, bahwa sikap adalah pilihan. Sebenarnya kita
bisa memilih untuk menghindari bersikap buruk seperti itu. Apakah kita menjadi
puas dan bahagia jika memilih sikap seperti itu? Tentu tidak, bukan? Nah,
sebenarnya ada pilihan lain yang bisa membahagiakan kita. Mengapa bukan itu
yang kita pilih? Semuanya tergantung kepada kita sendiri.
Kiat untuk Meraih Kebahagiaan
Salah satu kunci meraih kebahagiaan adalah dengan membangkitkan,
memelihara, dan meningkatkan rasa syukur. Caranya adalah dengan
menghitung-hitung nikmat yang kita terima dan miliki.
Di sini saya ingin mengajak merenung salah satu hal saja dari apa
yang kita miliki, misalnya mata kita. Allah menciptakan jutaan warna dan bentuk
benda hidup atau mati yang bisa ditangkap penglihatan kita. Kita bisa melihat
keindahan dari kombinasi warna, bentuk, dan macam tetumbuhan maupun binatang
yang ada di dunia ini. Kita bisa melihat dan meresapi senyum bahagia anak-anak,
isteri atau suami, tetangga atau siapapun. Kita bisa melihat kekokohan bukit
batu dan lembutnya lambaian dedaunan yang tertiup angin sepoi-poi. Kita bisa
menikmati keindahan deburan ombak yang pecah di pantai berkarang. Kita bisa
mengagumi pergerakan awan halus yang menutupi birunya langit. Kita juga bisa
merasakan sensasi eksotisme suatu obyek karena keterbatasan pandangan yang
disebabkan oleh terbatasnya cahaya di malam hari.
Semua keindahan itu ditangkap hanya oleh kedua bola mata kita.
Mata kita mampu menangkap dan membedakan jutaan warna, mengenali bentuk dan
jenis semua benda yang ada di alam ini selama berada dalam jangkauan pandangan
kita. Fungsi mata menjadi tidak maksimal ketika ada gangguan terhadapnya.
Dengan adanya gangguan kecil seperti lensa mata yang tidak lagi fleksibel,
sehingga kita harus menggunakan bantuan kaca mata minus, plus atau silinder
untuk bisa melihat dengan normal. Gangguan yang lebih berat lagi, misalnya buta
warna, yang menyebabkan kita tidak bisa melihat warna-warna tertentu. Dan
gangguan yang paling parah adalah kebutaan total.
Sekarang bayangkan, bagaimana jika Allah mencabut kenikmatan
melalui mata kita? Mungkin dengan cara yang menyakitkan atau tidak. Kita tidak
bisa lagi melihat warna-warni dunia yang indah, tidak bisa lagi merasakan
senyum bahagia anak-anak, isteri atau suami kita. Kita tidak bisa lagi mereguk
semua keindahan yang ada di alam ini. Kita tidak bisa lagi melihat makanan yang
akan kita makan. Bahkan melihat jari-jemari kita sendiri pun juga tidak bisa.
Kita telah kehilangan terlalu banyak hal yang dulu bisa membuat kita senang dan
bahagia. Dunia menjadi gelap gulita dan seolah runtuh. Hidup terasa tak berarti
lagi.
Kita baru bisa merasakan betapa pentingnya hanya dua mata kita manakala Allah mengambilnya kembali. Padahal sebelumnya kita tidak pernah memerhatikannya dan meremehkan keberadaannya. Itu baru dua bola mata kita. Pernahkah kita merenungkan sejauh mana pentingnya keberadaan paru-paru kita, jantung kita, kaki dan tangan kita serta jari-jemarinya? Ataukah kita tidak menganggapnya penting, atau bahkan meremehkannya? Kita telah menganggap semua itu remeh dan tidak penting karena telah kita tutupi dengan kekurangan kecil yang kita anggap besar.
Sekarang bandingkan kekurangan yang kita miliki dengan semua nikmat
dan kelebihan yang kita miliki! Kekurangannya amat kecil, bukan? Hanya saja,
banyak orang yang memperlakukan kekurangan ini secara tidak proporsional. Mereka
menganggapnya jauh lebih besar daripada semua nikmat yang tak terhingga
nilainya itu.
----------------------------------------------
Baca juga:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar