Senin, 01 Agustus 2016

Tidak Ada Alasan untuk Tidak Bersyukur

Berbahagia dengan bersyukur
Benarkah tidak ada alasan untuk tidak bersyukur? Mungkin pertanyaan ini menuntun kita untuk berpikir menelusuri waktu demi waktu dan langkah demi langkah kehidupan yang sudah kita lalui, untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu. Di masyarakat banyak ditemui orang yang selalu mengeluh atas kehidupannya. Dari keluhan itu nampak adanya penderitaan dalam hidupnya. Uniknya lagi, hal itu terjadi bukan pada orang yang tergolong miskin saja, melainkan banyak juga pada orang-orang kaya.

Banyak orang kaya yang hidupnya resah, depresi, bahkan tidak bisa menikmati kekayaannya. Tidak jarang di antara mereka yang berusaha lari dari kehidupannya dengan cara mengakrabi minuman keras, dugem, pergaulan bebas dan narkoba. Dikiranya di sana akan ditemui kebahagiaan, ternyata faktanya tidaklah demikian. Banyak juga yang menghabiskan usianya di penjara karena perilakunya yang buruk, bahkan banyak juga yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Di sisi lain, banyak sekali kita temui orang-orang yang tergolong miskin nampak tenang hidupnya dan selalu berbahagia bersama keluarganya. Mereka seringkali menebar senyum dan salam kepada tetangganya. Mereka mempunyai semangat hidup yang tinggi dan selalu menasehati teman-temannya. Pendeknya, nampak sekali pancaran kebahagiaan di wajah mereka. Mereka dekat sekali dengan Tuhannya dan berusaha untuk selalu menjalani kehidupannya pada aturan-aturan agamanya. Mereka berupaya untuk menyelaraskan hidupnya dengan kehendak Tuhannya.

Kendati tekanan kehidupannya cukup berat, mereka tetap optimis bahwa di hari esok akan menemukan kebahagiaan demi kebahagiaan. Mereka tidur dengan nyenyak, tidak ada kekhawatiran akan apa yang terjadi di hari esok. Tertawanya lepas dan ikhlas, seperti tertawanya anak-anak kecil yang mendapatkan hadiah mainan yang diinginkannya. Rasa syukur terhadap nikmat yang dirterimanya mengantarkannya kepada kekaguman kepada Tuhannya.

Sekarang kita persempit pada kasus sederhana namun sering terjadi. Ada orang yang menyesal berkepanjangan, mengapa kulitnya berwarna hitam. Ada orang yang merasa malu dengan hidungnya yang tidak tergolong mancung. Ada orang yang menyesali tubuhnya yang tidak ideal, mungkin lebih pendek dari kebanyakan teman-temannya. Ada orang yang bersedih karena alasan-alasan kecil lainnya, seperti: tidak tampan atau cantik, tidak pandai, tidak dilahirkan di keluarga yang kaya dan sebagainya. Bahkan ada pula yang menyesal mengapa dulu diberi nama yang tidak trendy.

Alasan-alasan kecil ini tidak jarang mendominasi pikiran dan perasaannya. Sehingga seolah tidak ada kelebihan atau kenikmatan yang dimilikinya yang mampu menutupi kekurangan yang dirasakannya. Kekurangan-kekurangan itu membuatnya minder, pasip, tak bersemangat dan anti sosial. Karena itu mereka sering memrotes orang lain, orang tuanya, keadaan, dan bahkan Tuhannya, yang dituduhnya sebagai penyebab dari kekurangannya.

Mengapa Orang Sering Mengeluh?

Keluhan adalah ungkapan kekecewaan -baik melalui lisan atau dalam hati-, atas kekurangan dimiliki atau atas keadaan yang tidak sesuai dengan yang diinginkan. Hal-hal kecil bisa menyebabkan terjadinya keluhan itu jika orang berfokus kepadanya. Kendati mereka memiliki kelebihan dan nikmat yang amat banyak, semua itu tidak terlihat manakala mereka berfokus pada kekurangannya.

Sebenarnya sikap seperti ini akan merugikan dirinya. Semakin tidak terima, protes atau marah, maka akan semakin membuatnya menderita. Perasaan menderita ini pasti berpengaruh buruk terhadap tubuhnya. Pertumbuhan sel-sel kulitnya tidak sehat sehingga nampak lusuh, berkerut, tidak segar, dan redup tak bercahaya. Organ-organ vital tubuhnya seperti jantung dan paru-parunya menjadi sakit. Pikirannya menjadi tidak cemerlang. Emosinya meletup-letup tak terkendali. Energi terkuras untuk meratapi keadaan.

Kita mengetahui, bahwa sikap adalah pilihan. Sebenarnya kita bisa memilih untuk menghindari bersikap buruk seperti itu. Apakah kita menjadi puas dan bahagia jika memilih sikap seperti itu? Tentu tidak, bukan? Nah, sebenarnya ada pilihan lain yang bisa membahagiakan kita. Mengapa bukan itu yang kita pilih? Semuanya tergantung kepada kita sendiri.

Kiat untuk Meraih Kebahagiaan

Salah satu kunci meraih kebahagiaan adalah dengan membangkitkan, memelihara, dan meningkatkan rasa syukur. Caranya adalah dengan menghitung-hitung nikmat yang kita terima dan miliki.

Di sini saya ingin mengajak merenung salah satu hal saja dari apa yang kita miliki, misalnya mata kita. Allah menciptakan jutaan warna dan bentuk benda hidup atau mati yang bisa ditangkap penglihatan kita. Kita bisa melihat keindahan dari kombinasi warna, bentuk, dan macam tetumbuhan maupun binatang yang ada di dunia ini. Kita bisa melihat dan meresapi senyum bahagia anak-anak, isteri atau suami, tetangga atau siapapun. Kita bisa melihat kekokohan bukit batu dan lembutnya lambaian dedaunan yang tertiup angin sepoi-poi. Kita bisa menikmati keindahan deburan ombak yang pecah di pantai berkarang. Kita bisa mengagumi pergerakan awan halus yang menutupi birunya langit. Kita juga bisa merasakan sensasi eksotisme suatu obyek karena keterbatasan pandangan yang disebabkan oleh terbatasnya cahaya di malam hari.

Semua keindahan itu ditangkap hanya oleh kedua bola mata kita. Mata kita mampu menangkap dan membedakan jutaan warna, mengenali bentuk dan jenis semua benda yang ada di alam ini selama berada dalam jangkauan pandangan kita. Fungsi mata menjadi tidak maksimal ketika ada gangguan terhadapnya. Dengan adanya gangguan kecil seperti lensa mata yang tidak lagi fleksibel, sehingga kita harus menggunakan bantuan kaca mata minus, plus atau silinder untuk bisa melihat dengan normal. Gangguan yang lebih berat lagi, misalnya buta warna, yang menyebabkan kita tidak bisa melihat warna-warna tertentu. Dan gangguan yang paling parah adalah kebutaan total.

Sekarang bayangkan, bagaimana jika Allah mencabut kenikmatan melalui mata kita? Mungkin dengan cara yang menyakitkan atau tidak. Kita tidak bisa lagi melihat warna-warni dunia yang indah, tidak bisa lagi merasakan senyum bahagia anak-anak, isteri atau suami kita. Kita tidak bisa lagi mereguk semua keindahan yang ada di alam ini. Kita tidak bisa lagi melihat makanan yang akan kita makan. Bahkan melihat jari-jemari kita sendiri pun juga tidak bisa. Kita telah kehilangan terlalu banyak hal yang dulu bisa membuat kita senang dan bahagia. Dunia menjadi gelap gulita dan seolah runtuh. Hidup terasa tak berarti lagi.

Kita baru bisa merasakan betapa pentingnya hanya dua mata kita manakala Allah mengambilnya kembali. Padahal sebelumnya kita tidak pernah memerhatikannya dan meremehkan keberadaannya. Itu baru dua bola mata kita. Pernahkah kita merenungkan sejauh mana pentingnya keberadaan paru-paru kita, jantung kita, kaki dan tangan kita serta jari-jemarinya? Ataukah kita tidak menganggapnya penting, atau bahkan meremehkannya? Kita telah menganggap semua itu remeh dan tidak penting karena telah kita tutupi dengan kekurangan kecil yang kita anggap besar.

Sekarang bandingkan kekurangan yang kita miliki dengan semua nikmat dan kelebihan yang kita miliki! Kekurangannya amat kecil, bukan? Hanya saja, banyak orang yang memperlakukan kekurangan ini secara tidak proporsional. Mereka menganggapnya jauh lebih besar daripada semua nikmat yang tak terhingga nilainya itu.

Persepsi seperti inilah yang menyebabkan orang tidak pernah bisa bersyukur. Kekurangan kecil yang dianggapnya tidak sesuai dengan keinginannya ini haruslah diabaikan, karena faktanya tidak akan pernah bisa mengubah keadaan menjadi seperti yang diinginkan. Maka, marilah beralih berfokus pada kelebihan yang kita miliki, yaitu nikmat yang tak terhitung nilainya. Dengan demikian, karena kita merasakan nikmat demi nikmat yang terus-menerus, maka kita akan terus bersyukur atas semua nikmat itu. Maka, kebahagiaan pun akan kita dapatkan dalam mengarungi kehidupan ini. Insya Allah.

Ngudi Tjahjono, Malang (1 Agustus 2016)

----------------------------------------------

Baca juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar