![]() |
Ketika anak saya minta diantar mengonsultasikan tesisnya ke dosen
pembimbingnya, saya menyanggupinya. Jadwal yang ditetapkan adalah pukul 13.15
bbwi. Setelah siap berangkat beberapa menit kemudian, ternyata ban belakang
motor saya bocor halus. Entah apa yang menyebabkannya?
Pada kondisi seperti itu anak saya dihadapkan pada dua pilihan
yang sama-sama tidak bisa memenuhi jadwal secara tepat waktu. Jika memilih naik
angkot, tidaklah mungkin bisa mengejar ketertinggalan. Sedangkan jika menunggu
ban ditambal, juga pasti terlambat.
Kendati kami sudah memerhitungkan secara cermat, ternyata ada
faktor lain yang sama sekali di luar perkiraan kami. Kini tinggal bagaimana
cara menyikapi keadaan ini dengan baik? Jika kami memilih protes dan marah,
tidak akan bisa mengubah kenyataan. Bahkan perasaan marah itu secara psikologis
pasti akan merugikan diri sendiri. Namun, jika kami bersabar menerima kenyataan
ini sambil berikhtiar menemukan tempat penambalan ban, maka kami akan
mendapatkan keuntungan. Keuntungan tersebut adalah berupa belajar mengendalikan
emosi dan memahami bahwa bukanlah kita sebagai penentu dominan atas apa yang
terjadi pada diri kita.
Menolak dan menerima kondisi seperti ini memang berada pada
pilihan kita sendiri. Masing-masing pilihan tentu memiliki konsekuensi sendiri.
Semakin menolak dan marah terhadap keadaan ini, justeru akan semakin merugikan
dan menyakitkan. Sedangkan jika menerima, akan menenangkan emosi kita. Bahkan,
jika kita berusaha menerima dan menikmatinya, maka akan bisa membahagiakan.
Ini baru contoh nyata sederhana berkenaan dengan takdir. Bahwa
segala peristiwa di alam ini tidaklah terjadi atas kehendaknya sendiri, tidak
akan bisa terjadi jika tidak diizinkan oleh Dia Yang Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita tidak bisa mengelak atas semua
kehendak-Nya. Yang penting untuk kita pelajari adalah bagaimana caranya
menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya. Wallahu a’lam.
Ngudi Tjahjono (Malang, 6 September 2016)
Catatan: Artikel ini pernah
dimuat di http://www.kompasiana.com pada
tanggal 5 September 2016.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar