Minggu, 07 Januari 2018

Hakikat Cinta

Allah, Sang Pencipta, adalah Maha Pecinta dan sumber cinta. Dia menciptakan makhluk, memeliharanya dan memenuhi semua kebutuhannya dengan amat cermat. Dia tidak meminta balasan atas semua yang diberikannya. Itulah wujud cinta yang hakiki, cinta yang tak berbatas.

Semua makhluk pun diberinya rasa cinta, baik yang terbaca maupun tak terbaca, ternyatakan maupun tersembunyi. Tentu cinta makhluk itu terbatas, sebab mereka adalah makhluk yang serba terbatas. Kendati demikian, mereka berusaha mencari hakikat cinta sebenarnya. Karena itulah lahir beribu definisi cinta.

Apa Sebutan untuk Kita?

"Sebutan" adalah merupakan istilah lain dari “panggilan”,”nama”, “penanda” atau "identifier" yang unik bagi sesuatu. Dengan adanya sebutan ini maka kita mudah mengenali sesuatu itu. Jika tidak ada sebutan, maka kita akan kesulitan dalam mengenali apapun yang ada, baik yang nyata maupun yang ghaib (abstrak). Jadi, mau tidak mau kita memerlukan “sebutan” itu.

Sebutan bisa dibuat sendiri oleh yang bersangkutan atau dibuat oleh pihak lain di luar dirinya. Kebanyakan yang membuat sebutan sesuatu adalah pihak lain. Nama kita dibuat oleh orang tua kita. Nama benda-benda yang ada di alam, termasuk benda-benda langit, dibuat oleh manusia. Tuhan pun juga membuat nama-nama ciptaan-Nya sesuai bahasa yang digunakan di dalam kitab suci yang asli.

Analogi dari Takdir

Analogi adalah penjelasan atau penggambaran suatu hal dengan cara memberikan contoh kasus yang mirip dengan hal yang dibicarakan agar orang lebih mudah memahaminya. Hal ini biasanya dilakukan karena tidak mudahnya menjelaskan secara langsung dengan kata-kata.

Misalnya, ketika menjelaskan tentang takdir. Masalah ini adalah masalah yang sangat sulit dipahami. Dalam kasus ini biasanya digunakan analogi sederhana dengan mengambil contoh suatu fakta yang ada di sekitar kita.

Senin, 01 Januari 2018

Apa Hubungan Air dan Rasa Malu?


Apakah kita terkejut tatkala dihadapkan pada permintaan Allah Subhanahu wa ta'ala, "Terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum!"? Permintaan tersebut termaktub dalam Al Qur'an surat Al Waaqi'ah [56] ayat 68. Maka timbul pertanyaan dalam hati, mengapa Allah meminta penjelasan perihal ini? Apa yang diinginkan Allah dari jawaban kita? Bukan berarti Allah tidak mengetahui perihal air, karena Dia yang menciptakannya, pastilah Dia mengetahui sangat detil tentang barang buatan-Nya itu.

Siapakah Diri Anda?


Ketika kita ditanya, "Siapakah diri Anda?", tentu kita tidak akan mampu menjawabnya. Boleh jadi kita akan menjawabnya sesuai terminologi kedokteran dan psikologi yang kita pahami. Sedangkan aspek ruh, jiwa, hati dan perasaan tidak mampu kita menjangkaunya.

Apakah karena kita tidak mengenali diri sendiri sehingga kita tidak memperlakukan diri kita dengan semestinya? Apakah karena itu kita tidak mengetahui kelebihan dan kelemahan diri? Atau, apakah karena itu kita rela menempatkan diri lebih rendah dari sesama makhluk?